Kronologis Penangkapan Nelayan dan Aktivis saat Aksi Unjuk Rasa Tolak Penambangan Pasir di Makassar

- 13 September 2020, 08:09 WIB
Massa yang berunjuk rasa menolak penambangan pasir di Pulau Kodingareng./twitter.com/@jatamnas /

Lensa Purbalingga - Setidaknya ada 11 orang yang ditangkap oleh Polairud Polda Sulawesi Selatan sesaat setelah aksi menolak penambangan pasir di Pulau Kodingareng pada Sabtu, 12 September 2020. 

Dari 11 orang tersebut, masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda, ada yang murni nelayan, ada aktivis dan beberapa jurnalis pers mahasiswa.

Adapun kronologis kejadiannya, dikutip oleh Lensa Purbalingga dari jatam.org pada Sabtu, 12 September sekitar pukul 06.00 Wita kapal milik PT Boskalis kembali melakukan penambangan pasir di daerah copong (wilayah tangkap nelayan), kegiatan ini menimbulkan reaksi dari masyarakat/nelayan Pulau Kodingareng.

Baca Juga: Sintren, Tarian Mistis sang Perawan yang Terasuki Roh Bidadari

Baca Juga: Pemprov DKI Tambah 14 Rumah Sakit Rujukan untuk Penanggulangan Covid-19

Baca Juga: Lagi Asik Berswafoto di Pantai Logending, Pengunjung Asal Banyumas Tersapu Ombak dan Tenggelam

Tepat Pukul 07.30 WITA ratusan nelayan yang didominasi oleh ibu-ibu bersama mahasiswa/aktivis lingkungan dan jurnalis pers mahasiswa bergerak menuju lokasi tambang untuk melakukan aksi protes dengan menggunakan 3 jolloro (perahu tradisional berukuran besar) dan 45 lepa-lepa (perahu tradisional berukuran kecil).

Pukul 08.33 Wita massa aksi tiba di lokasi tambang langsung menggelar aksi demonstrasi berupa orasi ilmiah dan pembentangan spanduk yang berisi penolakan kegiatan tambang.

Puluhan perahu nelayan kemudian mengelilingi kapal tambang dengan maksud menghentikan/mengusir kapal.

Alhasil, pada pukul 08.50, kapal milik Boskalis meninggalkan lokasi tambang. Disusul puluhan perahu nelayan kembali ke Pulau Kodingareng.

Halaman:

Editor: Majid Ngatourrohman

Sumber: Jatamnas


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X